Mantel kuningmu itu, yang selalu kamu pakai setelah memenangi peperangan kampret.
Setelah semuanya kamu bawa kedalam lubang laknat yang ditutupi bau surga.
Setelah semua manjelma menjadi kamu yang layu.
Dengan senyummu yang menguras kantong para bajingan.
Kamu bilang, “aku akan buka cabang.”
“Cabang?.
Cabang apa maksudmu?”
“Yah, aku akan membuat banyak lubang-lubang neraka.
Toh mereka menyukainya.”
Ketika kamu menyeretku, aku menurut, karena aku penasaran dengan apa yang kamu punya.
Dengan surga semu yang kamu tawarkan, yang sebenarnya adalah lubang hitam pekat selaksa neraka tujuh rupa.
Persetan, sialan, bajingan!! kamu hampir menyeretku masuk ke dalam dunia yang siapapun yang telah masuk takkan dapat keluar lagi.
Lelaki itu lari keluar, tak tau arah, dengan langkah gontai, dia menabrakkan dirinya ke tembok, membenturkanya ke mobil yang melaju kencang, ke trotoar, dalam pekat aspal, bahkan melayangkan tubuhnya di jembatan, di gedung-gedung tinggi.
Berharap takdirnya datang.
Lelaki itu menatapku dengan nanar.
Aku berpaling, aku tak kuasa membayangkan seandainya dia aku..
Jakarta, 25 Apr. 09
23:35

0 comments: on "Jalan neraka"
Post a Comment