Ketika waktu itu kudapati kamu, matamu hanya terbelalak, seolah ingin berkata “jangan, jangan, aku tak pantas untuk ini”
Disinilah takdir itu dimulai
Ketika banyak orang berbicara, kamu hanya diam.
Ketika mereka tertawa, kamu malah menangis.
Disisi lain tangisanmu adalah olok-olok untuk hidup ini, hidup yang kamu sendiri, bahkan tak satupun orang yang tahu tentangnya.
Ketika aku putuskan untuk memilihmu, aku sebenar-benarnya yakin bahwa akupun tak tahu ada yang lain selain kamu.
Jakarta, 20 April 09

0 comments: on "Entahlah"
Post a Comment